Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, 23 October 2012

Birthday



“Selamat ulang tahun, Cacaaaa!” seru Kate begitu Caca memasuki ruang kelas. Serentak, beberapa orang dikelas yang mendengar teriakan Kate ikut menghampiri Caca dan mengucapkan kalimat senada. Caca mengangguk sambil tersenyum manis. “Makasih, makasih banyak!” jawabnya dengan ramah. Sesekali dibalik senyumnya, lesung pipitnya muncul. Lebih lagi saat teman baiknya, Laras membawakan sekotak kado dengan bungkus yang lucu. Caca yang memang kalem tersipu malu. Tidak biasa dikerubungi seperti ini. Ia bersyukur teman – temannya yang biasanya diam tidak memperhatikan kali ini menunjukkan apresiasinya. Terimakasih, tuhan.. bisiknya dalam hati.

Sunday, 7 October 2012

Elegi



Aku mempunyai seorang adik perempuan yang manis bernama Fransoise William atau yang kami panggil Willy. Umurnya berjarak 2 tahun dariku. Orang selalu memuji kulitnya yang putih bersih, rambutnya yang pirang keemasan, sampai matanya yang biru jernih. Berbeda denganku 180 derajat.
Aku berkulit kuning langsat dengan rambut hitam mengkilat dan mata coklat tanah. Mommy selalu berkilah saat kukatakan tidak ada kemiripan sama sekali aku dengan mom ataupun daddy. “Kamu seperti Nenek,” cetus mom saat itu. “Nenek merupakan orang Asia,” terang mom suatu hari. Aku hanya mengangguk percaya saja. Beliau sudah meninggal saat mom masih kelas 1 di senior high school.
]
Baik mommy maupun daddy, tampaknya sangat memanjakan Willy. Aku masih ingat ulang tahun ke- 5 Willy saat itu.
Pinata, teman – teman kecil Willy, Balon berwarna-warni, kotak – kotak kado yang tersusun rapi, dan sebuah kue tart besar yang lucu. Sebuah pesta kebun yang meriah dan ramai. Dan saat itu, Willy the princess memakai tiara kecil dengan baju seperti princess Disney, dan sebuah tongkat berujung bintang. Pesta yang penuh dengan musik meriah, games, dan pokoknya serba wah. Bahkan saat itu mommy dan daddy menghadiahkan Willy sebuah kamar tidur serba ungu-pinky favoritnya.
Semua keinginan Willy selalu dituruti, bahkan saat Willy mengatakan ingin memiliki seekor anak kucing, daddy langsung mengajak Willy ke Petshop dan pulangnya, Willy menuntun seekor kucing maine coon hitam.
Aku yang berumur 7 tahun hanya bisa menatap Willy dengan marah. Jelas, ada suatu pembatas diantara kami yang tentu saja tidak bisa dimengerti seorang anak berumur 7 tahun…

Friday, 14 September 2012

Grrr...! Coba aja!

Aku melirik jam di dinding kelas. Pukul 12 kurang 5 menit. Ayo dong, cepetaann... udah laper nih! batinku. Guru di depan kelas masih saja menjelaskan pelajaran, sementara tampaknya teman - teman sekelas mulai sependapat denganku.
KRIING! KRIING!
Yes! Bel berbunyi tepat pada pukul 12 siang. Adzan dzuhur mengalun dan guru menyudahi pelajaran dengan satu pesan... "Kalian jangan lupa mengerjakan PR ya... dikumpulkan minggu depan," dan akhirnya guru itu pun keluar.
"Yang itu PR? Aku udah dong," seru salah satu temanku. Serentak, semua anak dikelas menoleh. "Lihat dong! Lihat, lihat.. pinjem!"
Aku dan anak - anak sekelas lain berebutan melihat jawaban soal pilihan ganda itu. Setelah selesai, aku dan anak - anak yang lain tersenyum puas. Done.

1 minggu kemudian...
Aku mengecek kembali kelengkapan buku - buku pelajaran untuk besok. Lengkap. PR semuanya sudah... eits, tunggu. PR di lembar kerja minggu lalu... ah, beres. Tapi hatiku memintaku untuk mengecek jawaban yang ada di buku itu. Aku kembali melirik jam. Sudah pukul 10 malam lebih dan semua orang di rumah sudah tertidur. Aku menguap dan memasukkan semua bukuku kedalam tas dan aku lebih memilih untuk tidur.
~
"Ya, anak - anak! Tugas minggu lalu dikumpulkan di baris paling depan! Nanti ditukar dengan baris sebelahnya!" seru guru didepan kelas. Seisi kelas riuh saling oper buku tugas kedepan.
"Sudah ya? Kita bahas.. no.1 dari ujung belakang, baca!"
"..........."
Shock.
Itu perasaan semua anak dikelas. Kok?
Bagaimana tidak? Lembar kerja yang kami semua kerjakan ternyata nyaris salah semua! 90 % jawaban Lembar kerja kami SALAH!
Grr... aku menggeram. Ada sebersit rasa penyesalan dihatiku.
Seandainya saja aku menuruti kata hatiku untuk mengecek jawabannya semalam....