Shera
Ada banyak hal di dunia ini yang dapat membuatku tersenyum. Mulai dari suatu hal yang lucu, sampai suatu hal yang sangat manis dan pahit sehingga membuatku tersenyum. Tersenyum bukan hanya satu, kan. Tersenyum bisa saja senyum lebar, senyum tipis, senyum sinis, bisa kan?
Diantara semua alasan, aku paling menyukai saat aku tersenyum karena canda dan tawa teman – temanku. Temanku dimanapun itu. Mereka pandai membuatku tertawa sampai menangis karena lelucon mereka. Atau karena tingkah laku mereka. Teman adalah hal yang paling berharga untukku, disamping kelaurgaku tentunya. Teman yang selalu setia disampingku. Bukan didepanku, atau dibelakangku. Aku bukan seorang pengikut, aku juga bukan seorang pemimpin. Aku, dia, kami, semua sama.
Hal lain adalah beberapa kata dari seseorang lewat direct message di twitter. Walaupun dibatasi kurang dari 200 karakter, kata – katanya dapat membuat hari – hariku terasa berbeda. Kata – katanya selalu menerbitkan senyum cerah. Bahasanya membuatnya serasa berbicara langsung dihadapanku.
Dia kukenal lewat sebuah situs jejaring sosial yang kadang dipandangan beberapa orang ‘menjengkelkan’. Tapi sebenarnya asal kita berniat baik, yaa… semua itu bisa berubah. Keep in positive touch, right?
Seiring waktu yang berjalan semakin cepat setiap harinya, aku telah mengenalnya hampir setahun. Candanya sering menjadi bahan obrolanku dan teman – teman dekatku disekolah.
Pages
Pages
Pages
Showing posts with label Part 1. Show all posts
Showing posts with label Part 1. Show all posts
Sunday, 24 February 2013
Tuesday, 24 July 2012
Danielle's Life
wow!
Siang yang terik saat kakiku menginjak daratan Amerika. Akhirnya aku lega juga setelah berjam - jam duduk manis di pesawat. Angin musim panas benar - benar panas!
Uncle Ben menjemput kami di Bandara dan mengantar kami menuju tempat tinggal kami di Fairfax, Virginia. Jujur, aku kaget saat Uncle bilang bahwa kami akan tinggal di apartemen.
Kak Dean sangat antusias karena apartemen kami memiliki fasilitas olahraga yang baik. Emily juga bertepuk tangan senang saat diceritakan tentang sebuah playground yang mengasyikkan.
Sejujurnya (lagi) aku sangat bosan dan tertidur di mobil.
Sebuah apartemen yang cantik. Begitu kesanku saat pertama kali menginjakkan kaki disana. Dad yang bekerja sebagai arsitek juga pandai mendesign ruangan.
Ruang tamu yang merangkap ruang keluarga bernuansa kayu klasik. Dapur yang terletak agak kebelakang juga masih bernuansa pedesaan-klasik.
Yang paling aku suka, kamarku dan Emily dicat warna kuning (dan untungnya bukan pink karena aku tidak suka warna itu)
Kamar Kak Dean dicat serba biru favoritnya.
Pokoknya, that was amazing. Thank you, Dad. For this surprise :)
Malamnya, Dad dibantu Kak Dean memasak Chicken soup dan menghidangkannya dengan Garlic Bread. Kami semua makan tanpa suara kecuali Emily dengan suara bayinya yang mengesalkan. Anak umur 3 tahun itu memang lucu dan kadang mengesalkan, kau tahu.
Saat makan, aku tak sengaja melihat bufet kayu yang diletakkan didekat dapur. Diatas bufet itu ada beberapa foto. Foto Dad, foto Kak Dean, fotoku, Foto Emily, sebuah foto keluarga, dan foto mom.
Entah kenapa mendadak aku agak gimanaaa gitu. Yeah, do you know what I mean?
Mom sudah pergi. Pergi meninggalkan aku, Emily, Kak Dean, juga Dad. Semua ini gara - gara penyakit yang menimpa mom itu. Sungguh, aku sangat benci pada penyakit yang membawa mom pergi itu. Kenapa mom harus pergi?
Kenapa ya, Kak Dean, bahkan Dad bisa menganggap enteng hal ini?
Entahlah..
Mungkin aku terlalu emosional. Aku terlalu sayang pada mom.
July, 2011
Danielle J.
Siang yang terik saat kakiku menginjak daratan Amerika. Akhirnya aku lega juga setelah berjam - jam duduk manis di pesawat. Angin musim panas benar - benar panas!
Uncle Ben menjemput kami di Bandara dan mengantar kami menuju tempat tinggal kami di Fairfax, Virginia. Jujur, aku kaget saat Uncle bilang bahwa kami akan tinggal di apartemen.
Kak Dean sangat antusias karena apartemen kami memiliki fasilitas olahraga yang baik. Emily juga bertepuk tangan senang saat diceritakan tentang sebuah playground yang mengasyikkan.
Sejujurnya (lagi) aku sangat bosan dan tertidur di mobil.
Sebuah apartemen yang cantik. Begitu kesanku saat pertama kali menginjakkan kaki disana. Dad yang bekerja sebagai arsitek juga pandai mendesign ruangan.
Ruang tamu yang merangkap ruang keluarga bernuansa kayu klasik. Dapur yang terletak agak kebelakang juga masih bernuansa pedesaan-klasik.
Yang paling aku suka, kamarku dan Emily dicat warna kuning (dan untungnya bukan pink karena aku tidak suka warna itu)
Kamar Kak Dean dicat serba biru favoritnya.
Pokoknya, that was amazing. Thank you, Dad. For this surprise :)
Malamnya, Dad dibantu Kak Dean memasak Chicken soup dan menghidangkannya dengan Garlic Bread. Kami semua makan tanpa suara kecuali Emily dengan suara bayinya yang mengesalkan. Anak umur 3 tahun itu memang lucu dan kadang mengesalkan, kau tahu.
Saat makan, aku tak sengaja melihat bufet kayu yang diletakkan didekat dapur. Diatas bufet itu ada beberapa foto. Foto Dad, foto Kak Dean, fotoku, Foto Emily, sebuah foto keluarga, dan foto mom.
Entah kenapa mendadak aku agak gimanaaa gitu. Yeah, do you know what I mean?
Mom sudah pergi. Pergi meninggalkan aku, Emily, Kak Dean, juga Dad. Semua ini gara - gara penyakit yang menimpa mom itu. Sungguh, aku sangat benci pada penyakit yang membawa mom pergi itu. Kenapa mom harus pergi?
Kenapa ya, Kak Dean, bahkan Dad bisa menganggap enteng hal ini?
Entahlah..
Mungkin aku terlalu emosional. Aku terlalu sayang pada mom.
July, 2011
Danielle J.
Subscribe to:
Posts (Atom)